Rabu, 08 Februari 2012

Keistimewaan Daging Sapi Wagyu

2 komentar

Tahukah anda mengenai sapi wagyu? Para pecinta steak mungkin tidak awam dengan daging sapi wagyu. Wagyu berasal dari kata Wa dan Gyu. Wa berarti jepang, Gyu berarti sapi. Jenis sapi wagyu memang dikembangkan dari Jepang, tepatnya di Kobe. Sapi tersebut merupakan sapi bertanduk yang berambut hitam dan merah. Kualitas daging paling baik dimiliki oleh Wagyu berbulu hitam. Betisnya kuat dengan berat rata-rata ketika lahir sekitar 70 ponds. Ternak wagyu dibesarkan dalam sebuah lokasi penggemukan selama 300 hingga 600 hari untuk menghasilkan kadar lemak otot yang tinggi, secara umum, semakin tinggi lemak otot di sepanjang daging, semakin tinggi kualitas daging secara keseluruhan.Banyak yang mengatakan daging sapi wagyu mempunyai kualitas nomor satu di dunia. Hal ini yang menyebabkan harganya mahal. 

Sapi wagyu saat diternakan, mendapat penanganan yg ekstra luar biasa,  untuk relaksasi sapi ini setiap hari di pijat dengan pijatan khas jepang untuk membuat daging Wagyu empuk. Begitu juga dengan makan minumnya. sapi ini di beri minum sake atau bir jepang agar ia rileks dan tidak stres selain itu juga mendapatkan suplai ramuan - ramuan ala jepang. Makanan yang dikonsumsi Wagyu tidak hanya rumput tapi juga jagung, barley, berbagai macam vitamin bahkan juga kalsium. Untuk membuatnya bersih dari parasit yang hidup di kulit sapi seperti lalat dan kutu, Wagyu dimandikan dengan sake, minuman khas Jepang. Selain di jepang wagyu juga terdapat di australia teapi bibit - bibit sapinya tetap berasal dari jepang sehingga di kenal dengan sebutan Wagyu Australia. 

Daging wagyu tak hanya kaya nutrisi seperti Omega 3 dan 6, tetapi juga rendah lemak. Bahkan, konsumsi daging wagyu dipercaya baik untuk kesehatan kulit, menurunkan kolesterol jahat, serta mencegah kanker. Sebuah penelitian yang dikembangkan di Washington State University, AS menemukan bahwa secara infrastruktural, anatomi sapi Wagyu mengandung dua kali lebih tinggi unsur lemak tak jenuh dibandingkan daging sapi lain yang diternakkan secara tradisional. Oleh karenanya tidak heran, sapi Wagyu menghasilkan produk daging yang lebih sehat dan juga lebih lezat. Dagingnya yang empuk dan lembut membuat wagyu mudah 'meleleh' di lidah. Setelah dimakan, rasa enaknya pun tetap menempel hingga pangkal lidah. Begitu istimewanya wagyu, sehingga tak heran jika harganya sangat mahal. Biasanya para penikmatnya datang dari kalangan menengah atas. Wagyu jepang harganya bisa mencapai Rp 1jt/kg, bahkan lebih. Untuk wagyu australia bisa mencapai Rp 500rb/kg, tergantung standar marblingnya. Wagyu australia terbagi menjadi beberapa kelas menurut standar Marbling. Marbling adalah komposisi titik - titik putih dalam daging. semakin banyak marbling daging kualitas daging akan semakin baik, dan rasanya akan semakin gurih. (rrw)

Read more...

Senin, 06 Februari 2012

Peternak Indonesia Minim Ilmu

0 komentar
Peternakan di Indonesia sudah mulai menampakkan tampuk hidungnya. Baik peternakan unggas,hewan besar maupun peternakan hewan kesayangan yang mulai dimininati masyarakat Indonesia. Akan tetapi,peningkatan itu tidaklah sehebat negara-negara tetangga Indonesia yang hasil produksinya sudah lebih dari cukup dibandingkan peternak di Indonesia yang selalu rugi dan rugi. 

Peternak yang penulis maksud disini yaitu peternak yang individualis atau peternak kecil yang hanya memiliki sapi kecil dari 5 ekor. Itupun ada yang menernakkan sapi orang lain (bukan milik pribadi). Sebenarnya apa penyebab kerugian itu? 

Keberhasilan peternakan ditentukan oleh beberapa aspek, yaitu Breed,Lingkungan dan Manajemen. 3 kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain,berikut penjelasannya :

Breed merupakan bibit. Dimana dalam ilmu breeding,dasar keberhasilan ternak dinilai dari sini. Yaitu asal usul keturunan. Hasil perkawinan heterozigot atau homozigot. Pendataan Heretabilitas,bagus atau tidak. Akan tetapi,pendataan ternak individual kurang diperhatikan. Sistem perkawinan hanya asal-asalan,itupun kalau diarahkan oleh mantri yang berpengalaman. Sehingga bibitnya pun harus puas dengan bibit asal-asalan. 

Kemudian Lingkungan. Ilmu breeding menyatakan Fenotip = Genotip + Lingkungan. Jadi keunggulan gen dipengaruhi oleh lingkungan. Dimana sama sama kita ketahui,produksi sapi di lingkungan tenang dan sejuk lebih baik dibandingkan di lingkungan yang tidak tenang. Akan tetapi,di peternakan individu,khususnya sapi. Kebanyakan masyarakat membangun kandang di dekat rumah,selain tidak sehat juga mengganggu perkembangan sapinya sendiri.

Terakhir,Manajemen. Hal ini wajib sekali diperhatikan. Yaitu pengaturan peternakan. Berupa pemberian pakan dan minum,vaksin, dan lain-lainnya. Kesalahan mendasar peternak individualis yaitu pada pakan. Mereka terkesan hanya memberikan pakan seenaknya saja. Tidak menimbang nutrisi yang dibutuhkan ternak untuk mencapai produksi maksimal. Sehingga tidak bisa dipungkiri lagi,hasil ternaknya terkesan merugi.

Kemudian itu peran siapa?

Kembali lagi kepada peran. Sebenarnya inilah salah satu pekerjaan besar dokter hewan seluruh indonesia. Dimana,penyuluhan peternakan yang baik dan benar keseluruh penjuru Indonesia. Walaupun juga butuh teman dan dukungan dari para mantri (paramedis),peternakan dan badan-badan terkait lainnya. 

Sehingga terciptalah kehidupan yang sejahtera di seluruh kawasan Indonesia. Jadi kesimpulannya : Faktor keberhasilan ternak dipengaruhi oleh Breed,Lingkungan dan manajemen. Serta pentingnya peran pihak terkait dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat.(hp)
Read more...

Kamis, 02 Februari 2012

Antara daging sapi lokal dan daging sapi import?

0 komentar

Menurut hitung-hitungan Kementerian Pertanian pada tahun 2012, konsumsi daging nasional diperkirakan mencapai 480.000 ton. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dibutuhkan sapi lokal maupun eks impor sekitar 2,6 juta ekor. Hasil sensus Badan Pusat Statistik 2011 kemarin, sapi dalam negeri mencapai 14,6 juta ekor. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,6 juta ekor yang potensial untuk dipotong. Dengan kata lain populasi sapi dalam negeri cukup untuk penuhi kebutuhan daging nasional. Namun menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Feedlot Indonesia (Apfindo), Joni Liano dari 2,6 juta ekor sapi yang potensial dipotong 1,4 juta ekor di antaranya adalah jantan dewasa dan 1,2 juta betina di atas usia enam tahun (produktif). ”Dari jumlah sapi betina ini yang bisa dipotong hanya 50% atau sebanyak 600.000 ekor. Jadi total sapi dalam negeri yang bisa dipotong sebenarnya hanya 1,9 juta ekor atau setara 340.000 ribu ton,” tegasnya.

Namun menjelang akhir tahun, harga daging sapi lokal tercatat semakin mengalami kenaikan. Sehingga harga daging impor semakin jauh lebih murah dibandingkan daging lokal.  Penurunan kuota impor sapi membuat para pengusaha yang bergerak dalam penggemukan sapi dan distribusi daging sapi kesulitan memperoleh dari pasar lokal. Harga daging pun naik. Misalnya Rahman, pedagang daging di Pasar Klender, Jakarta Timur ini mengatakan, harga daging lokal terus beranjak naik. "Jadi awalnya itu Rp 60 ribu tapi dua minggu ini naik Rp 10 ribu, jadi sekitar Rp 70 ribu," ujarnya. Menurutnya mskipun harga daging impor lebih murah dibandingkan daging lokal, Rahman menyatakan kualitas daging impor ini lebih rendah dibandingkan daging sapi dalam negeri. "Daging lokal ini kan lebih segar," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan harga daging lokal justru mulai beranjak turun jika dibandingkan minggu lalu sehingga diharapkan hingga akhir tahun diharapkan bisa stabil. "Daging itu sekarang sekitar Rp 65-70 ribu per kilo dibandingkan beberapa minggu lalu, sempat naik ke Rp 75 ribuan dan umumnya daging lokal," pungkasnya. Dengan demikian lanjut Joni, kebutuhan impor agar produksi sapi dalam negeri lestari adalah sebanyak 140.000 ton pada tahun 2012 ini. ”Sekarang ini pemerintah tetapkan impor hanya 85.000 ton dengan rincian 51.000 ton (setara 283.000 ekor) dalam bentuk impor sapi bakalan dan 34.000 ton impor daging,” tambahnya. Akibat penurunan kuota sapi dan daging sapi impor itu, Sekjen Dewan Daging Nasional (DDN) Jody Koesmendro mengatakan banyak kandang milik perusahaan anggota DDN yang tidak terpakai. ”Rata-rata kandang yang termanfaatkan hanya 25 persen,” tambahnya.

Refrensi
http://www.sinartani.com/Ternak/pengusaha-kesulitan-penuhi-daging-sapi-dari-pasar-lokal.html
http://finance.detik.com/read/2011/12/22/145019/1797668/4/harga-daging-sapi-lokal-makin-mahal

Read more...